FILSAFAT ILMU DALAM KAJIAN PAUD

 
  1. Dilihat dari segi Ontologi

Seperti yang dijelaskan sebelumnya Ontologi merupakan Ilmu yang mempelajari dan mengkaji lingkup apa yang dikaji oleh suatu ilmu, misalnya apa saja lingkup ilmu yang ada dalam pendidikan anak usia dini. Ontologi ilmu adalah suatu proses pengkajian sesuatu secara mendalam dalam lingkup dunia empiris.

Ontologi membahas tentang apa yang dikaji oleh suatu ilmu dan wilayah kerjanya. Contoh: PAUD mempelajari anak usia dini dari usia 0 sampai dengan 8 tahun dengan wilayah kajian di lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah (TK, RA, PG/KB, TPA, BKB, Posyandu PAUD, Pos PAUD, dan sebagainya).

Ketika mempelajari ontologi ilmu kependidikan, maka kita  akan mempelajari segala yang ada dalam bidang pendidikan (subjek dalam dunia pendidikan adalah siswa/anak didik yang harus dipelajari dari anak didik adalah perkembangan jasmani, intelektual dan psikologisnya). Jadi, ontologi pada PAUD benar-benar pencarian hakikat sesuatu yang dilandasi keingintahuan akan suatu hal yang mungkin ada dan sudah ada segala hal mengenai PAUD.

  1. Pengertian dan Karakteristik Anak Usia Dini

Pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.[1] Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age).

Karakteristik PAUD khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough sebagai berikut.

1)        Anak bersifat unik.

2)        Anak mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan.

3)        Anak bersifat aktif dan enerjik.

4)        Anak itu egosentris.

5)        Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal.

6)        Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang.

7)        Anak umumnya kaya dengan fantasi.

8)        Anak masih mudah frustrasi.

9)        Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak.

10)     Anak memiliki daya perhatian yang pendek.

11)     Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial.

12)     Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman.

 

b. Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini

Adapun prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini menurut Bredekamp dan Coople adalah sebagai berikut.

1)      Perkembangan aspek fisik, sosial, emosional, dan kgnitif anak saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.

2)      Perkembangan fisik/motorik, emosi, social, bahasa, dan kgnitif anak terjadi dalam suatu urutan tertentu yang relatif dapat diramalkan.

3)      Perkembangan berlangsung dalam rentang yang bervariasi antar anak dan antar bidang pengembangan dari masing-masing fungsi.

4)      Pengalaman awal anak memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak.

5)      Perkembangan anak berlangsung ke arah yang makin kompleks, khusus, terorganisasi dan terinternalisasi.

6)      Perkembangan dan cara belajar anak terjadi dan dipengaruhi oleh konteks social budaya yang majemuk.

7)      Anak adalah pembelajar aktif, yang berusaha membangun pemahamannya tentang tentang lingkungan sekitar dari pengalaman fisik, social, dan pengetahuan yang diperolehnya.

8)      Perkembangan dan belajar merupakan interaksi kematangan biologis dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.

9)      Bermain merupakan sarana penting bagi perkembangan social, emosional, dan kognitif anak serta menggambarkan perkembangan anak.

10)   Perkembangan akan mengalami percepatan bila anak berkesempatan untuk mempraktikkan berbagai keterampilan yang diperoleh dan mengalami tantangan setingkat lebih tinggi dari hal-hal yang telah dikuasainya.

11)   Anak memiliki modalitas beragam (ada tipe visual, auditif, kinestetik, atau gabungan dari tipe-tipe itu) untuk mengetahui sesuatu sehingga dapat belajar hal yang berbeda pula dalam memperlihatkan hal-hal yang diketahuinya.

12)   Kondisi terbaik anak untuk berkembang dan belajar adalam dalam komunitas yang menghargainya, memenuhi kebutuhan fisiknya, dan aman secara fisik dan fisiologis.

c. Model Pendidikan Anak Usia Dini

Model pembelajaran berdasarkan minat adalah model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk memilih atau melakukan kegiatan sendiri sesuai dengan minatnya. Pembelajaran berdasarkan minat dirancang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik anak.

Prinsipnya, dalam model pembelajaran berdasarkan minat mengutamakan:

1)    Pengalaman belajar bagi setiap anak secara individual

2)    Membantu anak untuk membuat pilihan-pilihan melalui kegiatan dan pusat-pusat kegiatan melibatkan peran serta keluarga.

3)    Pelaksanaan pembelajaran berdasarkan minat dapat menggunakan beberapa area antara  lain: area agama, balok, bahasa, drama berhitung/matematika, sains, seni/motorik, musik, membaca dan menulis.

  1. Jalur Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini

Menurut pasal 28 ayat 3 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudathul Athfal, atau bentuk lain yang sederajat.

Macam-macam jalur penyelenggaraan PAUD :

1)  Satuan Pendidikan Anak Usia Dini

Satuan pendidikan anak usia dini merupakan institusi pendidikan anak usia dini yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia lahir sampai dengan 6 tahun. Di Indonesia ada beberapa lembaga pendidikan anak usia dini yang selama ini sudah dikenal oleh masyarakat luas, yaitu:

a)    Taman Kanak-kanak (TK) atau Raudhatul Atfal (RA)

TK merupakan bentuk satuan pendidikan bagi anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan bagi anak usia 4 sampai 6 tahun, yang terbagi menjadi 2 kelompok : Kelompok A untuk anak usia 4 – 5 tahun dan Kelompok B untuk anak usia 5 – 6 tahun.

b)    Kelompok Bermain (Play Group)

Kelompok bermain berupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia 2 sampai dengan 4 tahun.

c)    Taman Penitipan Anak (TPA)

Taman penitipan anak merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan dan kesejahteraan anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun.

e. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini

Secara khusus tujuan pendidikan anaka usia dini adalah[2]:

1)      Agar anak percaya akan adanya Tuhan dan mampu beribadah serta mencintai sesamanya.

2)      Agar anak mampu mengelola keterampilan tubuhnya termasuk gerakan motorik kasar dan motorik halus, serta mampu menerima rangsangan sensorik.

3)      Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif sehingga dapat bermanfaat untuk berpikir dan belajar.

4)      Anak mampu berpikir logis, kritis, memberikan alasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.

5)      Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan social, peranan masyarakat dan menghargai keragaman social dan budaya serta mampu mngembangkan konsep diri yang positif dan control diri.

6)      Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, berbagai bunyi, serta menghargai karya kreatif.

  1. Dilihat dari segi Epistemologi

Epistemologi merupakan bagaimana cara-cara memperoleh pengetahuan yang benar (ilmu), dari penjelasan sebelumnya diketahui bahwa tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang anak baik fisik, mental, maupun psikososial, lembaga pendidikan berguna untuk membantu anak berkembang secara optimal sesuai dengan tugas perkembangannya maka dibutuhkan serangkaian program yang bertujuan memberikan pengalaman belajar untuk anak. Serangkaian program yang dirancang oleh para pendidik dengan menggunakan berbagai acuan perkembangan anak disebut dengan kurikulum. Pengertian lain menyebutkan kurikulum merupakan rencana kegiatan atau dokumen tertulis yang mencakup strategi untuk mencapai tujuan. Sementara menurut NAEYC, pengertian kurikulum dapat dijabarkan dengan melihat arti dalam proses pelaksanaannya terlebih dahulu, antara lain:

  1. Rencana kegiatan yang berisi pengembangan seluruh area perkembangan anak: fisik, emosional, bahasa, seni, dan kognitif
  2. Mencakup bahasan yang luas meliputi seluruh disiplin ilmu : sosial, intelektual, dan konsep diri anak
  3. Dibangun atas pengetahuan yang sudah siap dipelajari dan dilaksanakan anak (aktivitas pengetahuan utama) untuk menghubungkan pengetahuan mereka dan menerima konsep serta keterampilan baru.
  4.  Menggunakan bahan dari berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran untuk membantu anak memecahkan masalah yang dihadapi, membuat hubungan yang bermakna dan memberi kesempatan untuk menggali perkembangan konseptual
  5. Mengembangkan pengetahuan & pemahaman; proses; dan keterampilan untuk digunakan dan diterapkan serta untuk mempelajari pengetahuan
  6. Berisi pengembangan intelektual, penemuan inti pembelajaran, dan alat penerimaan ilmu yang berbeda sesuai dengan gaya belajar anak
  7. Memberi kesempatan anak untuk mengembangkan budaya dan bahasa keluarganya sambil mengembangkan kemampuan dalam bersosialisasi dengan budaya dan bahasa di sekitarnya
  8. Berisi tujuan yang realistik dan dapat dicapai oleh sebagian besar anak pada usianya
  9. Menggunakan teknologi dan bersifat filosofis dalam proses pembelajaran

Jadi kurikulum adalah seperangkat rencana untuk dilaksanakan dalam aktivitas pembelajaran yang mencakup pengembangan berbagai potensi anak menggunakan strategi bahkan media yang disesuaikan dengan kebutuhan anak dan lingkungan, dalam penyusunan kurikum ada beberapa hal yang harus diperhatikan. National  Assosiation for the Education of Young Children (NAEYC) mengemukakan beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam menyusun kurikulum untuk anak usia dini yang berdasarkan pada pendekatan DAP. Prinsip tersebut antara lain:

  1. Kurikulum hendaknya necakup seluruh aspek perkembangan anak baik fisik, sosial emosional, bahasa, estetika maupun kognitif.
  2. Kurikulum meliputi rentangan yang luas dalam konten atau bahan pembelajaran antar disiplin ilmu yang relevan secara sosial dan konteks budaya setempat, melibatkan intelektual dan penuh makna bagi anak secara individual.
  3. Kurikulum dibangun pada apa yang telah diketahui dan dapat dilakukan oleh anak (aktifitas mendahului pengetahuan). Hal ini dimaksudkan untuk mengkonsodilasikan pembelajaran dan untuk mendorong penguasaan konsep dan keterampilan baru.
  4. Perencanaan kurikulum yang efektif selalu memadukan antar berbagai topik materi. Hal ini bermaksud untuk membantu anak membuat suatu hubungan yang bermakna dan menyediakan kesempatan pengembangan konsep yang kaya. Berfokus pada suatu objek juga merupakan strategi yang tepat untuk anak-anak.
  5. Kurikulum mengarahkan pada pengembangan pengetahuan dan pemahaman, proses dan keterampilan sebanding dengan penggunaan dan penerapan keterampilan dan kelanjutan pembelajaran.
  6. Konten/ isi kurikulum memiliki integritas intelenktual, merefleksikan kunsi konsep dan keterampilan inkuiri, dari disiplin ilmu yang dipelajari dalam cara-cara yang dapat diterima dan dapat dilakukan oleh anak berdasarkan jenjang usianya.
  7. Kurikulum memberikan kesempatan untuk mendukung berakembangnya pemahaman anak terhadap budaya dan bahasa lokal, sehingga anak bisa berpartisipasi dalam program kebudayaan setempat.
  8. Tujuan kurikulum hendaknya realistik dan dapat dicapai oleh anak yang disesuaikan dengan tingkatan usianya.
  9. Sebaiknya teknologi terintegrasi yang digunakan di dalam kelas terintegrasi secara fisik dan filosofi dalam kurikulm dan pengajaran.

Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut maka diharapkan seorang guru dapat membuat kurikulum yang patut dan sesuai dengan anak. Kurikulum pada pendidikan anak usia dini merupakan perwujudan dari serangkaian rencana guna memberikan pengalaman belajar untuk anak didik yang disesuaikan dengan tugas perkembangan meeka disetiap tahapan usia. Kurikulum anak usia dini adalah sebuah alur  mulai dari perencanaan sampai pada refleksi keefektifan program, kurikulum memiliki banyak model dan ciri khas masing-masing yang dapat dikembangkan di dunia pendidikan mana pun dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, sehingga kurikulum sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan lingkungan. Model-model tersebut antara lain[5]:

a.  Model Montessori

Pembelajaran model Montessori menggabungkan anak dari berbagai usia dan kemampuan menjadi satu kelas. Lingkungan pembelajaran diatur sesuai ukuran tubuh anak, materi bermain yang berurut dari sederhana menuju komplek, menyiapkan pengalaman langsung dalam setiap aktivitas anak dengan melibatkan anak secara aktif, dan guru bertindak membimbing dan mengamati proses perkembangan anak daripada memberikan instruksi. Pembelajaran menurut model Montessori lebih diorganisasi secara individualis daripada kelompok. Sekolah Montessori melaksanakan pembelajaran yang lebih bersifat individu pada anak dan tidak direncanakan untuk kegiatan kelompok. Anak berpindah dan berganti materi permainan dengan bebas di seluruh ruangan. Model Montessori menjabarkan tiga konsep sebagai kunci pembelajarannya, yaitu:

1)     Anak belajar jika melakukan aktivitas secara langsung.

2)     Anak bebas  memilih apa yang dibutuhkannya untuk mengembangkan kompetensinya.

3)     Guru tidak boleh mendiktekan tujuan belajar kepada anak agar anak dapat memilih kegiatan dengan bebas sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan.

b. Model Behaviorist

Model behavioris  dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran Edward Thorndike dan B. F. Skinner. Ada tiga komponen dalam model behavioris yang dikenal sebagai   instruksi langsung, yaitu agenda penguatan, perubahan prilaku, dan menghilangkan prilaku.

1) Agenda penguatan.

Penguatan merupakan hadiah yang diberikan atas prilaku yang telah dicapai anak. Hadiah dapat berupa benda ataupun pujian verbal dan non verbal. Agenda penguatan artinya penguatan diberikan secara terjadwal ketika perubahan prilaku telah tercapai, tidak semua respon diberi penguatan. Penguatan dimulai terhadap dua respon terlebih dahulu, kemudian meningkat menjadi empat dan seterusnya.  Penguatan tidak diberikan pada prilaku yang telah lama berubah, untuk beberapa prilaku yang telah dicapai anak, distimulasi yang akan tidak membutuhkan penguatan lagi tetapi langsung menuju prilaku selanjutnya yang akan ditanamkan.

2)    Perubahan prilaku.

Prilaku akan berubah tergantung pada penguatan dan hukuman yang diterima anak.  Jika anak menjadi pengganggu di dalam kelompok, makan guru harus mengacuhkan anak ketika berprilaku mengganggu dan memberi pujian atau hadiah ketika anak berprilaku yang bermanfaat. Anak berprilaku mengganggu bertujuan untuk mencari perhatian guru, karenanya hal itu tidak perlu ditanggapi, tetapi keberhasilan anak yang positif harus diberi hadiah sebagai penguatan agar prilaku yang diharapkan tetap dilakukan anak dikemudian hari.

3)     Menghilangkan prilaku.

Prilaku buruk akan hilang jika hal ini didukung oleh lingkungan sekitar. Model behavioris ini fokus pada pencapaian tujuan pembelajaran yang bersifat akademik seperti membaca, matematika, dan bahasa. Pembelajaran dilakukan dalam kelompok kecil

c.  Model Konstruktif

Model konstruktif merupakan pengembangan  dari teori pembelajaran Jean Piaget dan Lev Vigotsky. Model konstruktif  menyatakan bahwapengetahuan dibangun atas hasil pemerolehan ilmu melalui pengalaman langsung.  Anak aktif mencari pengalaman secaralangsung sehingga konsep yang  ditanamkan dalam pembelajaran dapat dimengerti anak dan bertahan lama dalam pikiran anak.

Tujuan utama pembelajaran model konstruktif adalah merangsang seluruh area perkembangan anak, yaitu perkembangan fisik, social-emosional,bahasa, dan kognitif. Kurikulum model konstruktif dikembangkan berdasarkan pada minat anak dan terintegrasi tidak berdasarkan pada bidang studi yangterpisah.

Pelaksanaan model konstruktif meliputi:

a. Pembelajaran dilakukan secara konkret sesuai dengan usia anak  yang berada pada tahap operasional dari perkembangan kognitif Piaget.

b. Anak belajar dan mengoptimalkan perkembangannya secara aktif melalui pengalaman langsung.

c. Menggunakan materi, peralatan, dan aktivitas belajar yang dapat mendorong anak mengembangkan potensinya secara aktif, seperti aktivitas seni, area pembangunan, bermain peran, menyanyi, bermain air dan pasir.

d.  Model Bereiter-Engelmann

Model ini dikembangkan oleh Carl Bereiter dan Siegfried Engelmann pada tahun 1960an. Program pembelajaran model Bereiter-Engelmann mempersiapkan anak untuk berkembang lebih cepat dari kemampuan di usianya. Menurut Brewer, keunggulan model Bereiter-Engelmann dapat

dijabarkan sebagai berikut:

1)    Langkah cepat. Setiap anak memerlukan 500 respon dalam waktu 20 menit dan dalam waktu 20 menit tersebut diberikan lima atau lebih tugas yang berbeda.

2)    Mengurangi latihan prilaku yang tidak penting. Guru mengendalikan pembelajaran hanya mengandalkan perubahan kondisi yang spontan untuk memberikan pembelajaran prilaku.

3)    Sangat menekankan pada respon verbal. Keterampilan akademik dihasilkan secara bersamaan dalam pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara maksimal melalui tanggapan guru terhadap berbagai pertanyaan anak secara verbal.

4)    Teliti dalam membuat perencanaan hingga pada tujuan terkecil sekalipun dan memberikan umpan balik secara terus menerus agar anak dan guru segera menyadari kesalahan yang dibuatnya dan segera memperbaiki.

5)    Menuntut kerja keras. Anak membutuhkan perhatian dan kerja keras dari orang tua atau guru untuk memberikan penguatan atau hukuman atas prilaku yang diperbuat anak.

  1. Dilihat dari segi Aksiologi

Aksiologi adalah pembahasan tentang untuk apa pengetahuan yang telah kita ketahui dipergunakan dalam kajian ilmu terapan khususnya ilmu PAUD. Jika bicara tentang “untuk apa?” maka kita akan membahas fungsi dan kegunaannya ilmu-ilmu yang terkait dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dari aksiologi lahirlah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia etika dan estetika.

Etika membahas tentang perilaku menuju kehidupan yang baik, di dalamnya membahas aspek kebenaran, tanggung jawab, peran. Estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya.

Di dalam aksiologi, peran agama, seni dan budaya sangatlah berpengaruh. Ketiga hal tersebut, tidak mungkin dipisahkan dari sebuah kajian filsafat, khususnya dalam aksiologi. Peran agama, seni dan budaya dalam aksiologi adalah sebagai berikut:

  1. Peran agama sangatlah penting, karena agama adalah pedoman hidup manusia yang bersifat nisbi dan pragmatis. Agama merupakan penghayatan yang bersifat mistik dan trasedental dalam usaha manusia untuk mengerti dan memberi arti dalam kehidupannya, maka sejak usia dini anak perlu dibekali pemahaman tentang agama.
  2. Peran seni/estetika yaitu berhubungan dengan keindahan dan segi artistik yang menyangkut antara lain, bentuk, harmoni, dan wujud kesenian lainnya yang memberikan kenikmatan kepada manusia. Untuk menanamkan jiwa seni pada anak maka mengembangkan kreativitas dan imajenasi sejak dini sangat diperlukan, melalui kegiatan bereksperimen.
  3. Peran budaya dalam aksiologi sangat bergantung dan mempengaruhi, karena perkembangan ilmu dalam masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaannya. Budaya adalah hasil karya, cipta manusia yang menghasilkan kreatifitas. Pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan karena ilmu terpadu secara intim dengan keseluruhan sistem sosial dan tradisi kebudayaan.

 

Beberapa peran ilmu di atas adalah peran ilmu dalam aksiologi secara umum kita akan membahas peran ilmu-ilmu yang terkait dalam PAUD. Untuk itu, kita perlu tahu apa saja ilmu yang terkait dengan PAUD. Berikut adalah beberapa ilmu yang kami anggap penting untuk dipahami oleh para pendidik PAUD untuk konseptual dan praktik serta perannya dalam kajian PAUD itu sendiri.

  1. Konsep Dasar PAUD

Seorang pendidik maupun orang tua PAUD harus memahami Konsep Dasar PAUD, karena didalamnya dikaji tentang hakikat anak usia dini dan teori-teori dasar pengajaran dan pembelajaran untuk anak usia dini. Jika seorang pendidik dapat menguasai konsep dasar PAUD, maka pendidik tersebut dipastikan dapat:

1)     Memahami persoalan-persoalan yang timbul pada anak usia dini.

2)     Menerapkan teori pengajaran dan pembelajaran ke dalam praktik.

3)     Memenuhi kebutuhan perkembangan psikis dan akademis anak,

  1. Perkembangan Anak

Seorang pendidik maupun orang tua PAUD harus memahami dan mengaplikasikan perkembangan anak karena didalamnya dikaji tentang tahapan-tahapan tumbuh kembang yang biasanya dialami anak usia dini pada umumnya. Dengan mempelajari perkembangan anak, maka seorang pendidik akan memahami tentang:

1)     Prinsip-prinsip perkembangan anak

2)     Dasar-dasar pola perkembangan

3)     Perkembangan: fisik, motorik, bahasa, emosi, sosial, kognitif, spiritual.

  1. Kurikulum PAUD

Seorang pendidik PAUD harus memahami kurikulum untuk dapat melaksanakan serta merancang kegiatan pengajaran dan pembelajaran, karena kurikulum membahas tentang program-program yang harus diberikan pada anak usia dini. Maka yang harus diperhatikan dalam hal ini yaitu apa dan bagaimana perencanaan pembelajarannya, bagaimana strategi pembelajaran untuk anak usia dini yang sesuai dengan kebutuhannya, dan bagaimana evaluasi pembelajarannya sesuai teori yang akan digunakan dan disesuaikan dengan lembaga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s