APPLICATION OF CONTEXTUAL APPROACH TO LEARNING COGNITIVE DEVELOPMENT CHILDREN

APPLICATION OF CONTEXTUAL APPROACH TO LEARNING COGNITIVE DEVELOPMENT CHILDREN AGES 4-5 YEARS IN PAUD TUNAS HARAPAN TULUNGAGUNG

The studies raised from One recent by Hart (in Santrock, 2007: 244), comparing 182 children from five kindergarten classes tailored to the good development of participatory activities, integrated curriculum tailored to age groups, cultural, and individual learning styles compared with five other kindergarten classes that have academic emphasis and direct instruction with the use of books / worksheets, learning seat, and routine activities disebuah school system in Louisiana proved that children from both types of classes do not differ in pre-kindergarten readiness, and the classes are balanced in the status the economy. Assessment of teachers on behavior and values ​​of children in the California Achievement Test in third grade obtained. Children who are in classrooms where adjusted to the more advanced development in vocabulary, math applications, and basic computing where the emphasis is basic aspects of cognitive development as well as data obtained in PAUD Tunas Harapan Tulungagung who run day-to-day learning with worksheets contained 60% of 12 students, or about 7 students have problems in understanding the concept of shapes, colors, sizes, and patterns, the concept of numbers, symbols, numbers, and letters.

The gap between the ideal conditions are expected with the actual practices in this field who serve as background research to find out the results of the application of contextual learning approach to the cognitive development of children aged 4-5 years in early childhood Tunas Hope. This study uses a type of pre-experimental research design with pre-test and post-test group design, the design of one group of subjects. Data collection methods used were observations to determine the child’s cognitive development. The subjects of this study were all students of class A PAUD Tunas Harapan Tulungagung. Techniques of data analysis techniques used are non-parametric statistical analysis using Wilcoxon test.

From the calculation results obtained T_hitung <T_tabel. This means that the hypothesis of the study which says “the application of contextual learning approach to deliver results on children’s cognitive development in PAUD Tunas Harapan Tulungagung” is acceptable.

Usia 4-6 bulan

 Usia 4-6 bulan

 

Bayi usia 4 bulan si kecil sudah dapat tengkurap dan terlentang, menumpuh badan pada kaki , serta dada terangkat menumpu pada lengan, mampu mengeluarkan suara dari tenggorokan, dan dapat mengekspresikan keterampilan bahasa tubuh.

Bayi usia 5 bulan, gerakan bayi semakin berfariasi otot bayi dan lengan bayi makin menguat. Ia kini sudah pandai berputar dan menggunakan tangannya. Indra penglihatan bayi sudah  sensitive terhadap cahaya dan warna, bayi sudah mengeluarkan ocehan pendek, “ba”, “da”.

Bayi usia 6 bulan, bayi sudah mampu duduk tanpa pegangan, senang mengoceh, dan mengekspresikan perasaan gembira,bayi akan sering menendan dan menggeser-geserkan kakinya serta memasukan benda- benda yang ditemuinya ke dalam mulut.

 

Perkembangan Anak

 

Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita, karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini kemampuan berbahasa, kreativitas, sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian juga dibentuk pada masa ini. Deteksi dini perkembangan anak dilakukan dengan cara pemeriksaan perkembangan secara berkala, apakah sesuai dengan umur atau telah terjadi penyimpangan dari perkembangan normal. Empat parameter yang dipakai dalam menilai perkembangan anak adalah:

1. Gerakan motorik kasar (pergerakan dan sikap tubuh).

2. Gerakan motorik halus (menggambar, memegang suatu benda dll).

3. Bahasa (kemampuan merespon suara, mengikuti perintah, berbicara

spontan).

4. Kepribadian/tingkah laku (bersosialisasi dan berinteraksi dengan

lingkungannya).

 

 

TABEL PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

Untuk bisa mengetahui apakah tumbuh kembang seorang anak tergolong kelewat pesat atau tidak, selain konsultasi dengan ahlinya, menurut Mayke bisa dilihat dari Tabel Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 0-12 bulan berikut ini:

Umur

BB (kg)

PB (cm)

Linkar

Kepala

Gerakan

Kasar

Gerakan

Halus

Komunikasi/

Bicara

Sosial dan

Kemandirian

1 bln 3,0-4,3 49,8-54,6 33-39 Tangan & Kaki bergerak aktif Kepala menoleh ke samping Bereaksi terhadap bunyi lonceng Menatap wajah ibu atau pengasuh
2 bln 3,6-5,2 52,8-58,1 35-41 Mengangkat kepala ketika tengkurap Bersuara Tersenyum spontan
3 bln 4,2-6,0 55,5-61,1 37-43 Kepala tegak ketika didudukan Memegang mainan Tertawa/ berteriak Memandang tangannya
4 bln 4,7-6,7 57,8-63,7 38-44 Tengkurap/ telentang sendiri    
5 bln 5,3-7,3 59,8-65,9 39-45   Meraih, menggapai Menoleh ke arah datangnya suara Meraih mainan
6 bln 5,8-7,8 61,6-67,8 40-46 Duduk tanpa berpegangan     Memasukkan Biskuit ke mulut
7 bln 6,2-8,3 63,2-69,5 40,5-46,5   Mengambil maianan dengan tangan kanan & kiri Bersuara ma, ma… ma… ma
8 bln 6,6-8,8 64,6-71,0 41,5-47,5 Berdiri berpegangan  
9 bln 7,0-9,2 66,0-72,3 42-48   Menjimpit   Melambaikan tangan
10 bln 7,3-9,5 67,2-73,6 42,5-48,5   Memukulkan mainan di kedua tangan   Bertepuk tangan
11 bln 7,6-9,9 68,5-74,9 43-49     Memanggil mama, papa Menunjuk meminta
12 bln 7,8-10,2 69,6-76,1 43,5-49,5 Berdiri tanpa berpegangan Memasukkan maianan ke cangkir Bermain dengan orang lain

 

Agar tumbuh kembang anak akan berjalan maksimal sesuai fase perkembangannya maka kita harus mengetahui cara mengasuh anak dengan baik secara asuh, asih dan asah.

  1. 1.     POLA ASUH

Asuh atau kebutuhan fisis- biomedis adalah hebutuhan akan nutrisi yang tepat dan seimbang. Di dalamnya termasuk:

  • Pangan / gizi
  • Perawatan dan kesehatan : penimbangan yang teratur, imunisasi,pengibatan
  • Pakaian
  • Kebersihan perseorangan, senitasi lingktngan, pemukiman yang layak.
  • Rekreasi, kesegaran jasmani.

 

Anjuran Pemberian Pangan atau Makanan Pada Bayi Usia 4 – 6 Bulan.

Makanan memegang berperanan penting dalam tumbuh kembang anak, karena anak sedang tumbuh sehingga kebutuhannya berbeda dengan orang dewasa. Pemberian ASI sangat penting bagi bayi karena selain nilai gizinya yang tinggi, terdapat zat-zat kekebalan yang melindungi anak dari berbagai macam infeksi. Disamping itu dengan menyusui akan mendekatkan hubungan anak-ibu. Sentuhan serta belaian ibu saat bayi berada dalam dekapannya memberikan rasa aman sehingga menenangkan bayi. ASI adalah makanan terbaik yang dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk tumbuh kembang bayi dibulan-bulan pertama kehidupannya. Dianjurkan pemberian ASI saja tanpa makanan apapun pada bayi sampai 6 bulan (ASI ekslusif).

Bila kondisi ASI ibu (jumlah dan kualitasnya) tidak memenuhi kebutuhan gizi bayi, yang ditandai dengan kenaikan berat badan yang tidak akurat, maka perlu diberikan pengganti ASI (PASI) untuk bayi usia dibawah 4 bulan, dan makanan pendamping ASI (M-PASI) untuk bayi usia diatas 4 bulan.

Pengaturan makanan selanjutnya harus disesuaikan dengan usia anak. Makanan harus mengandung energi dan semua zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral) yang dibutuhkan pada tingkat usianya. Pemberian makanan pendamping harus bertahap dan bervariasi dari mulai bentuk bubur cair ke bentuk bubur kental, sari buah, buah segar, makanan lumat, makanan lembek dan akhirnya makanan padat.

Contoh stimulasi :

ü  Beri asi, pemberian asi ini sesuai dengan keinginan bayi.

ü  Beri buah – buhan (sari) yang sesuai dengan bayi 1 – 2 kali dalam 1 hari.

ü  Beri bubur susu 1 – 2 kali dalam 1 hari.

ü  Susui bayi dengan payudara kanan dan kiri secara bergantian.

 

Cara Menjaga Kesehatan Bayi Pada Usia 4 – 6 Bulan

  • Amati Pertumbuhan Anak secara Teratur

Kesehatan anak harus mendapat perhatian dari orang tua, yaitu dengan cara segera membawa anaknya yang sakit ke tempat pelayanan kesehatan yang terdekat. Anak yang sehat pada umumnya akan tumbuh dan berkembang dengan baik.

Monitoring pertumbuhan anak dengan KMS, merupakan usaha untuk mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak. Sebaiknya anak sampai umur 3 tahun ditimbang tiap bulan. Dengan KMS kita bias mengetahui status kesehatan anak.

Contoh stimulasi :

ü  Timbang berat badan anak sebulan sekali

ü  Catat hasil penimbangan pada buku KMS

ü  Tanda anak tumbuh sehat adalah catatan pada buku KMS, garis pertumbuhan naik mengikuti salah satu pita warna atau pindah ke pita warna diatasnya,berat badan anak tiap bulan.

 

  • Minta Imunisasi Sesuai Jadwal di Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit, atau Praaktik Swasta

Imunisasi adalah pemberian kekebalan agar anak tidak mudah terserang atau tertular penyakit. Pemberian imunisasi harus sedini mungkin dan lengkap. Imunisasi yang wajib diberikan adalah BCG, hepatitis B, polio, DPT, dan campak.

Contoh :

  • Anak harus di imunisasi lengkap sebelum 1 tahun.
  • Imunisasi mencegah penyakit TBC,hepatitis(sakit kuning), polio, difteri, batuk 100 hari, tetanus, campak.
  • Sakit ringan,seperti batuk,pilek,diare,bukan halangan untuk imunisasi.
  • Jadwal imunisasi

 

Umur Jenis imunisasi
0 – 7 hari

1 bulan

2 bulan

3 bulan

4 bulan

9 bulan

Hepatitis B 1

BCG

Hepatitis B 2, DPT 1,polio 1

Heprtitis B3, DPT 2,polio 2

DPT 3, polio 3

Campak, polio 4

 

Cara Memilih Pakaian Untuk Bayi Usia 4  – 6 Bulan

 

Pakaian atau baju sangatlah penting bagi bayi untuk memberi kehangatan,kelembutan,perlindungan, serta rasa aman dan nyaman, untuk itu pemilihan baju yang dapat memenuhi kebutuhannya bayi perlu diperhatikan.

Contoh :

  • Pilih pakaian yang terbuat dari kain yang lembut dan tidak mengandung bahan yang berbahaya untuk bayi.
  • Pilih pakaian yang pas dan cocok untuk bayi,jangan terlalu sempit atau trlalu longgar,agar bayi merasa nyaman.
  • Jangan memakaikan grita pada bayi karena akan mengganggu gerak bayi dan pernapasan bayi.

 

Cara Menjaga Lingkungan Sekitar Bayi dan Kebersihan Bayi Usia 4 – 6 Bulan Agar Tidak Sakit

 

Kebersihan baik perorangan maupun lingkungan memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak. Dengan kebersihan yang baik dapat mencegah/ mengurangi terjadinya penyakit-penyakit kulit, diare, saluran pernafasan, demam berdarah dll. Perumahan yang layak, ventilasi dan pencahayaan cukup, tidak penuh sesak, akan menjamin keselamatan dan kesehatan penghuninya.

Contoh :

  • Mandikan setiap hari, pagi dan sore hari,memekai sabun bayi.
  • Cuci rambut bayi dengan shampoo yang tidak pedih di mata,2 – 3 kali dalam seminggu.
  • Gunting kuku tangan dan kaki jika sudah terlihat panjang.
  • Berssihkan rumah setiap hari dari debu,sampah dan genangan air.
  • Jauhkan anak dari asap rokok dan dapur.

 

 

  1. 2.    POLA ASIH

Kasih sayang dari orang tua akan menciptakan ikatan yang erat dan kepercayaan dasar untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik, mental, atau psikososial.

Pola asih untuk anak usia 4-6 bulan, meliputi:

  • Peluk dan timang bayi dengan penuh kasih sayang sesering mungkin
  • Memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada tubuh bayi
  • Melakukan tatapan atau kontak mata dengan bayi
  • Menjaga bayi tetap hangat dengan selimut atau dekapan ibu
  • Memberikan dekapan agar bayi merasa aman
  • Memangku bayi
  • Peluk dan timang bayi dengan penuh kasih sayang
  •  Ajak bayi tersenyum, bicara serta dengarkan musik.
  • Lebih banyak memberikan pujian kepada bayi
  • Selalu memberikan senyuman setiap kali bersama bayi
  • Meninabobokan bayi setiap kali akan tidur

 

Tingkah laku bayi usia 4-6 bulan berdasarkan pola asih, meliputi:

  • Bayi mengakui dan menyukai orang-orang yang dikenal, seperti tersenyum pada mereka
  • Bayi telah mengembangkan keterikatan dengan ibu atau pengasuh pertamanya
  • Bayi akan senantiasa ingin dekat dengan ibu atau pengasuh pertamanya
  • Bayi akan menangis ketika berpisah dengan ibu atau pengasuh pertamanya

 

 

  1. 3.    POLA ASAH

         

          Asah atau kebutuhan stimulasi oleh perangsangan yang datang dari lingkungan luar anak antara lain latihan atau bermain,kontak mata dan komunikasi verbal. Melalui bermain anak bias beljat mengendalikan dan mengkoordinasikan otot – ototnya, melibatkan emosi dan pikiran sehingga anak mendapat pengalaman hidup.

 

Pola Asah Untuk Bayi Usia 4 – 6 Bulan

 

  • PENGLIHATAN

Secara psikologis dan anatomis,bayi yang telah lahir memiliki kesiapan untuk merespon secara diferensial,berbagai aspek penglihatannya. Studi awal yang dilakukan oleh Frantz (1963) bahwa bayi yang baru lahir telah membuat diskriminasi visual secara baik. Kemudian bayi merespon secara selektif berbagai stimulasi visual, misalnya bayi lebih senang melihat pola atau bentuk daripada warna atau kecerahan. Mereka lebih senag melihat wajah, potongan benda yang dicetak daripada melihat warna merah,kuning,putih dan lain – lain. Sejak usia 6 bulan hingga 1 tahun ketajaman visual bayi tampak mendekati penglihatan orang dewasa normal.

Contoh :

ü  Menggantungkan benda bergerak agar anak dapat melihatnya.

ü  Ajak bayi berbicara,tersenyum serta mimic muka yang lain,supaya bayi dapat lebih mengenal dan hafal anggota keluarga.

ü  Menggerakan benda ke kanan dan ke kiri,untuk melatih penglihatannya.

ü  Mengajak keluar rumah,agar bayi melihat suasana yang berbeda.

 

  • PENDENGARAN

Menurut Hutt,et.all.,(1968). Respon selektif bayi terhadap ucapan manusia memiliki arti penting bagi kelangsungan hidupnya, sebab ia menjadi bagian yang vital dalam perkembangan hubungan kasih saying anatara orang tua dan anak. Hasil penelitian Muir & Flied (1979) juga menunjukkan bahwa sebagian besar bayi akan memutar kepalanya 90 derajat kearah sumber datangnya suara. Bayi juga mampu memperlihatkan respon yang berbeda atas suara yang berbeda,serta kelihatan lebih sensitive terhadap suara manusia yang normal.

Contoh :

ü  Sering mengajak bayi berbicara atau berkominikasi,bukan hanya orang tua saja melainkan orang lain disekitar,agar bayi bias mendengarkan dan merespon suara yang bermacam – macam.

ü  Mendengarkan berbagai music, agar selain suara manusia bayi juga terbiasa mendengarkan alunan music.

 

  • MOTORIK KASAR

Keterampilan motorik kasar (gross motor skill), meliputi keterampilan otot – otot besar lengan, kaki, dan batang tubuh seperti berjalan dan melompat. Sebelum tingkah laku reflex menghilang,bayi sudah dapat melakukan beberapa gerakan tubuh yag lebih terkendali dan disengaja. Pada usia 4 – 5 bulan bayi dapat menopang sebagian berat badab dengan kakinya, bayi juga sudah pandai berputar dengan menggunakan tangannya. Ketika diletakkan terlentang, ia menggunakan tangannya untuk mendorong dan berguling membalikkan badannya, Ia akan sering menendang, menggeserkan kaki atau mendorong-dorongkan kakinya. Pada usia 6 bulan, bayi dapat duduk tanpa dukungan, tetapi masih perlu bantuan.

 

  • MOTORIK HALUS

Keterampilan motorik halus meliputu otot – otot kecil yang ada di seluruh tubuh,seperti menyentuh dan memegang. Bayi dilahirkan dengan dilengkapi seperangkat komponen penting yang kelak akan menjadi gerak – gerak lengan, tangan dan jari yang terkoordinir dengan baik. Meskipun demikian, pada saat baru dilahirkan bayi masih mengalami kesulitan dalam mengontrol keterampilan motorik halusnya. Mereka sering menyentuh obyek disekitarnya tetapi gagal untuk memasukkan ke dalam genggamannya. Keterampilan – keterampilan sederhana, seperti menjangkau dan menggenggam ini muncul pada usia sekitar 4 atau 5 bulan, dan selama 2 tahun pertama kehidupan bayi, keterampilan tersebut semakin baik.

 

Contoh :

Perkembangan Gerakan:

ü  Tengkurap dan terlentang sendiri, Membalikkan badan.
Untuk melatihnya, sering letakan posisi dalam posisi tengkurap.
Bila si kecil sedang tengkurap, balikkan tubuhnya. Atau sebaliknya, bila
ia telentang balikkan badannya hingga ia tengkurap.

ü  Menumpu badan pada kaki bila dipegang pada ketiak (diberdirikan).
Melempar atau menjatuhkan benda-benda yg dapat digenggamnya.
Untuk melatihnya, beri mainan dari plastik yg
dapat digenggam, dilempar dan dijatuhkan, seperti mainan berbunyi yg
tidak mudah pecah, kubus-kubus kayu, cangkir plastik atau bola

ü  Bisa duduk sendiri tanpa pegangan.
Untuk melatihnya, Dudukkan anak di pangkuan dengan
menghadap keluar dan bersandar pada perut Anda. Lalu, pegang mainan
(kerincingan) pada jarak penglihatannya. Usahakan agar si kecil tertarik
sehingga ia berusaha meraihnya. Bila ia tertarik dan ingin meraih
kerincingan tersebut, jauhkan si kecil sedikit demi sedikit sampai si
kecil tidak bersandar lagi.

pola asuh untuk usia 0 – 3 bulan

bayi

PEMBAHASAN

Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang, secara umum digolongkan menjadi 3 kebutuhan dasar (dikutip dari Titi 1993): Kebutuhan fisik-biomedis (“ASUH”), Kebutuhan emosi atau kasih sayang (“ASIH”), dan Kebutuhan akan stimulasi mental (“ASAH”). Dalam makalah ini akan dibahas tentang pola pengasuhan anak yang meliputi kebutuhan dasar yang telah disebutkan sebelumnya yaitu “ASUH, ASIH, dan ASAH pada anak usia 0-3 bulan. Yang pertama akan dibahas tentang pola pengasuhan anak dengan kebutuhan dasar fisik-biomedis (ASUH).

  1. KEBUTUHAN FISIK-BIOMEDIS (ASUH) PADA ANAK USIA 0-3 BULAN

Kebutuhan fisik-biomedis (asuh) pada anak usia 0-3 bulan antara lain:

Pemberian gizi/nutrisi  yang baik dan seimbang sejak didalam kandungan

Gizi/nutrisi harus dipenuhi secara seimbang. Ibu hamil harus makan-makanan pemberi energi, misalnya nasi, gandum, tepung jagung, kentang, gula dan lemak. Makanan pembangun tubuh (bahan berprotein tinggi) misalnya kacang polong, kacang merah, kacang tanah, susu, daging, ikan dan telur. Makanan pelindung termasuk buah-buahan (jeruk, pisang, mangga) dan sayur-sayuran (wortel, bayam, daun mustard, daun mint yang kaya vitamin dan mineral.

Selain itu alkohol dan rokok juga harus dihindari selama kehamilan. Karena mengkonsumsi rokok pada tri semester terakhir bisa mengakibatkan cacat mental pada bayi didalam rahim. Tidak hanya itu saja, otaknya pun bisa terganggu. Kopi dan teh diperbolehkan asal jumlahnya tidak terlalu banyak.

Pemberian gizi/nutrisi bukan berarti harus makan-makanan yang mahal tetapi makanan yang memberikan energi, bahan untuk pembentuk dan pelindung tubuh.

Pemberian ASI ekslusif sebagai nutrisi untuk bayi usia 0-3 bulan

Satu bentuk rangsang untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan otak bayi adalah dengan menerapkan pola asah, asih dan asuh dalam perawatannya sehari-hari, dalam pemberian ASI juga perlu ditunjang dengan pemenuhan zat-zat gizi yang tepat.

Menurut Dr. Derrick B. Jelliffe, air susu manusia dianggap sebagai “pemberian hadiah cinta kasih dan sumber alamiah secara unik”. Ia mengatakan bahwa ASI adalah satu zat yang terbaik yang dimiliki manusia sebagai makanan bayi.

ASI merupakan sumber makanan utama dan paling sempurna bagi bayi usia 0-3 bulan. Untuk itu harus diterapkan pola makan yang sehat agar zat gizi yang dibutuhkan dapat dipenuhi melalui ASI karena ASI bukanlah “makanan yang buruk bagi bayi”, tetapi makanan pilihan untuk bayi.

Produksi ASI sampai hari kelima, yang disebut kolostrum (cairan kental kekuningan), sangat baik bagi bayi. Ia mengandung banyak antibodi, protein, mineral, dan vitamin A. ASI merupakan makanan terbaik yang tak tergantikan oleh segala bentuk makanan lain, baik susu formula, food supplement, ataupun suplemen vitamin. Tetapi, susu formula diperlukan untuk bayi-bayi yang tidak mendapatkan cukup ASI. Misalnya, ketika ibu sakit dan produksi ASI tidak mencukupi.

ASI eklusif menurut WHO (World Health Organization) adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan cairan lain baik susu formula, air putih, air jeruk, ataupun makanan tambahan lain. Sebelum mencapai usia 6 bulan sistem pencernaan bayi belum mampu berfungsi dengan sempurna, sehingga ia belum mampu mencerna makanan selain ASI.

Kelebihan ASI:

  • Komposisinya sesuai

ASI mempunyai komposisi yang ideal untuk memenuhi kebutuhan bayi. Tidak ada air susu jenis lain yang memiliki komposisi seperti ASI.

  • Tidak memerlukan persiapan

ASI selalu segar, murni dan siap untuk diminum, tidak memerlukan persiapan. Oleh karena itu, pemaparan terhadap kontaminasi luardapat dihindari.

  • Hangatnya sesuai untuk bayi

ASI selalu memiliki suhu yang paling baik untuk bayi. Tidak perlu merebus dan memastikan suhunya tepat untuk bayi.

  • Kontaminasi minimun

ASI bersifat steril. Olerh karena itu, aman bagi bayi. Beberapa studi menunjukkan bahwa keinfeksi pernapasan, seperti flu, dan infeksi gastro intestinal, seperti diare, jarang terjadi pada bayi yang menerima ASI.

  • Bersifat anti alergi

ASI mengandung antibodi dibanding protein makanan dan juga protein susu sapi. Antibodi ini berguna untuk menghalangi penyerapan bahan makanan beracun atau bersifat alergi pada saat bayi tidak memiliki respon terhadap kekebalan usus.

  • Pertahanan melawan infeksi

ASI mengandung beberapa faktor anti mikroba (agen yang menghalangi invasi) yang memiliki peran penting dalam melawan infeksi pada bayi. Kualitas ASI ini penting pertahanan bayi terhadap infeksi, khususnya dinegara-negara Ketiga dimana resiko infeksi sangat tinggi.

  • Dampak ekonomi

Dalam skala dunia, diperkirakan bahwa penurunan kegiatan menyusui bisa menyebabkan hilangnya uang milyaran dolar secara sia-sia.

  • Hubungan ibu-anak yang sehat

ASI baik sekali untuk membangun interaksi ibu-anak yang sehat. Bayi yang menerima ASI memilki kontak yang dekat dan hangat dengan ibunya yang sudah dibandingkan dengan “hangatnya air ketuban (air yang menjadi tempat berenang didalam perut ibunya) yang menyelimuti dan baru saja ditinggalkan”. Menyusui bayi akan memberikan banyak kepuasan dan rasa pemenuhan kebutuhan. Demikian halnya dengan bayi yang mendapat kepuasan hati dan kesenangan.

  • Nilai kontraseptif

Menyusui dianggap bisa membantu menjaga jarak kelahiran anak. Kemungkinan terjadinya konsepsi

  • Membantu mengembalikan bentuk tubuh ibu

Tidak benar adanya kepercayaan bahwa menyusui menjadikan bentuk tubuh ibu buruk. Kenyataannya adalah sebaliknya. Jika dilakukan dengan benar, menyusui dapat memperbaiki dan membentuk kembali tubuh ibu. Hal ini membuat rahim kembalike ukuran normal dan juga menghilangkan lemak ekstra yang terakumulasi selama kehamilan.

Perlindungan terhadap kanker

Para ibu yang menyusui bayinya secara relatif menunjukkan kemungkinan kecil terjangkit kanker payudara. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa kanker payudara sangat sulit sekali menyerang kaum yahudi yang mempunyai tingkat menyusui yang sangat tinggi.

Perlindungan terhadap gangguan degeneratif

Dalam beberapa tahun, telah ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa ASI memberi perlindungan melawan terhadap gangguan degeneratif pembuluh darah (arteriosklerosis).

Pemenuhan akan kebutuhan tempat tinggal yang aman (tempat tidur yang nyaman)

Tempat tidur bayi harus diletakkan didekat tempat tidur ibu sehingga bisa dipeluk, ditimang, dan diberi makan saat bayi menginginkannya. Sehingga melihat bayi tidur dan terjaga akan memberikan kepuasan yang mendalam bagi ibu begitu pula bagi bayi. Tempat tidur bayi juga harus dilengkapi dengan pengahalang dibagian tepi untuk mencegah bayi jatuh. Tidak perlu menggunaknan bantal, tetapi matras busa sudah cukup. Seprei dan juga lembaran plastik atau karet untuk mencegah matras supaya tidak basah juga diperlukan.

Pemberian pakaian yang sesuai dengan usia

Bayi yang baru lahir harus dibuat hangat, tetapi jangan terlalu hangat. Pakaian bayi seharusnya tidak membuat berkeringat. Sehingga ibu harus mengetahui kebutuhan atau pakaian yang sesuai yang harus dikenakan bayi. Popok yang terbuat dari bahan kasa atau handuk katun juga gumpalan kapas untuk mengelap pantat bayi yang terkena kotoran. Selain itu juga byi membutuhkan baju rompi, kaos tanpa kancing atau resleting, tutup kepala, baju hangat, kaos kaki, dan juga selimut.

Perawatan kesehatan dini berupa imunisasi

Imunisasi adalah perangkat yang praktis dan efektif yang bisa diperoleh dari dokter-dokter untuk melindungi beberapa penyakit menular. Imunisasi juga diistilahkan dengan vaksinasi atau inokulasi. Pada usia antara 0-3 bulan bayi harus melakukan imunisasi antara lain:

  • Imunisasi BCG

B adalah singkatan  dari Bacillus (bakteri), C singkatan dari Calmette dan G untuk Guerin. Calmette dan Guerin adalah dua nama ilmuwan dari Perancis yang mengembangkan vaksin BCG untuk melawan penyakit tuberkolosis. Setiap dokter akan menyarankan bahwa setiap bayi harus mendapat vaksinasi BCG secepat mungkin setelah lahir, mungkin sebelum berumur 3 bulan. Banyak pusat kesehatan yang tidak memulangkan ibu dan bayinya kecuali jika bayinya sudah mendapat vaksinasi BCG.

Lengan kiri adalah bagian standar tempat pemberian vaksinasi BCG. Jarum yang sangat kecil dan tabung suntik khusus yang berisi tuberculin digunakan untuk menginjeksikan vaksin kedalam kulit. Terakhir, ada beberapa bukti bahwa vaksinasi BCG juga memberikan perlindungan melawan lepra (penyakit yang sifatnya progresif dan menular ditandai dengan terserangnya kulit dan saraf) dan leukimia (sejenis kanker darah).

  • Imunisasi polio

Polio (poliomyelitis) merupakan penyebab utama paralisis pada tungkai kaki dan kelumpuhan pada anak. Pemberian vaksinasi polio secara oral dalam bentuk tablet  manis atau tetes (drop), dimulai apda umur 6 minggu, dikenal sebagai cara untuk melindungi diri melawan penyakit. Vaksinasinya bersifat aman. Pada umumnya pusat-pusat kesehatan memberikan 3 dosis pada interval 4 sampai 6 minggu.

Mengenai dosis booster atau vaksinasi kedua, ini harus diberikan pada umur 12-18 bulan setelah dosis terakhir suatu vaksinasi selesai diberikan. Vaksin tidak diberikan pada saat bayi sedang sakit diare akut yang parah atau sakit akut lainnya.

Merawat kebersihan badan dan lingkungan sekitar bayi

Kebersihan badan mencakup kebersihan hidung, mata, telinga, kulit dan bahkan tali pusar (sekitar umur 0-2 minggu).  Menjaga kebersihan hidung sangatlah penting, karena bayi akan menangis dan sulit bernafas jika hidungnya tersumbat. Telinga dan mata harus dibersihkan setiap kali sehabis mandi. Saat membersihkan mata, usapkan gumpalan kapas atau handuk dari ujung mata di dekat hidung kearah keluar. Tidak usah menghias mata bayi dengan pewarna. Tali pusar biasanya akan segera diberi obat anti bakteri atau diperban oleh dokter di ruang bersalin. Biasanya puntung ini akan lepas dalam waktu seminggu jika dibiarkan.

Menjaga kebersihan badan bayi merupakan hal penting. Jadi ibu yang baik harus memperhatikan hal-hal yang kecil.

Memberikan pengobatan ketika bayi sedang sakit

Sejak bayi berusia satu bulan sebaiknya diperiksakan ke dokter, tidak usah menunggu sampai masalah medis timbul dan menjadi parah. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan memeriksakan keadaan perut bayi, karena terkadang bayi selama 3 bulan pertama kehidupannya mengalami sakit perut yang hebat yang kemungkinan disebabkan karena adanya udara dalam perut bayi. Selain itu dapat juga melakukan pengecekan pada saluran pernapasan, karena dikhawatirkan dapat terserang infeksi akur seperti infeksi saluran pernapasan bagian atas, rinitis (peradangan pada hidung) atau otitis (infeksi telinga) sehingga memerlukan konsultasi dokter.

Setiap bulan sekali bayi sebaiknya diperiksakan ke Posyandu untuk mengetahui perkembangan bayi setiap bulannya. Selain itu bayi juga mendapatkan vitamin untuk menambah kekebalan tubuh bayi.

Pemenuhan kebutuhan fisik bilogis pada anak mempengaruhi kualitas perkembangan anak.

  1. KEBUTUHAN EMOSI ATAU KASIH SAYANG (ASIH) PADA ANAK USIA 0-3 BULAN

Pada tahun-tahun pertama kehidupan, hubungan yang erat, mesra dan selaras antara ibu atau pengganti ibu dengan anak merupakan syarat mutlak untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik, maupun psikososial. Berperannya dan kehadiran ibu atau pun penggantinya sidini dan selanggeng mungkin, akan menjalin rasa aman bagi bayi. Hal ini diwujudkan dengan kontak fisik (kulit/mata) dan psikis sedini mungkin. Kekurangan kasih sayang ibu pada tahun-tahun pertama kehidupan mempunyai dampak negatif pada tumbuh kembang anak baik fisik, mental maupun sosial emosi, yang disebut dengan “Sindrom Deprivasi Maternal”.Kasih sayang dari orang tua (ayah-ibu) akan menciptakan ikatan yang erat dan kepercayaan dasar.

Kebutuhan emosi atau kasih sayang (asih) pada anak usia 0-3 bulan antara lain:

Memberikan rasa aman (emotional security) baik secara kontak fisik maupun psikis

Ketika seorang bayi dibawa mendekat ke tubuh ibunya dan digendong dengan lembut serta penuh cinta kasih dalam bahunya, bayi itu tentu saja lebih diam. Karena bayi merasa lebih aman dalam dekapan ibunya. Selain itu tindakan ini membuat sinyal unik tertentu semacam bentuk “komunikasi” antara ibu dengan anaknya. Tangan ibunya meyakinkan si bayi tentang persaan aman mengenai kehidupan sebelumnya didalam rahim ibu dimana dia mendengarkan nyayian pengantar tidur terus menerus oleh suara detak jantungnya, oleh hembusan nafasnya yang teratur dan lembut gerakan tubuhnya.

Memberikan rasa kasih sayang dan perhatian

Rasa cinta kasih yang diterima bayi akan membuat bayi yang sakit menjadi sembuh dan sebaliknya kurangnya rasa cinta kasih akan membuat bayi yang sehat menjadi sakit. Cinta kasih dibutuhkan jauh sebelum seorang bayi tumbuh besar. Kenyataannya adalah pada beberapa menit pertama dan beberapa jam setelah lahir, intensitas kedekatan antara bayi baru lahir di satu sisi, dengan ibu dan ayah di sisi lain, secara meyakinkan mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan perilaku anak tersebut.

Memberikan perlindungan sejak usia kehamilan hingga anak dewasa

Saat mengetahui kehamilan, ibu harus memeriksa kehamilannya dan terus melakukannya sepanjang ibu hamil. Ibu yang tidak bisa merawat  diri selama hamil tidak selalu melahirkan bayi yang sehat. Pemeriksaan fisik yang seksama termasuk pemeriksaan jalan lahir (juga disebut pemeriksaan pra-vagina) dan pemeriksaan tekanan darah (TD) penting untuk mencatan berat dan tinggi. Dokter juga ingin mengetahui ukuran panggul, susunan tulang yang harus dilalui bayi selama kelahirannya.

Sebagian besar kehamilan yang diperiksakan dengan baik akan berakhir dengan baik, tapi ibu hamil harus tetap cermat dan waspada. Ibu yang bergizi baik juga bebas dari penyakit yang bisa menghambat kehamilan. Ibu yang seperti ini akan melahirkan bayi yang lebih besar dan sehat untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Jadi bagi ibu yang sedang hamil sebaiknya berusahalah semampunya untuk menghindari kontak dengan campak jerman (rubella) selama bulan-bulan pertama kehamilan atau bayi bisa lahir dengan berbagai cacat fisik

Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi menimbulkan kepercayaan  pada bayi terhadap lingkungannya

Saat bayi berumur 0-3 bulan, dia seperti keluar dari cangkangnya. Dengan pengasuhan yang didalamnya terkandung kasih sayang yang tulus dia akan menunjukkan rasa senangnya dengan jelas saat diangkat, ditimang, dipeluk atau diajak bicara. Setiap bayi yang mendapatkan kasih sayang yang tulusdan adanya orang tua disamping bayi didekatnya maka ia merasa diterima dan senang dengan keluarga yang ada disekitarnya, sehingga dapat timbul rasa percaya terhadap lingkungannya.

Hasil pengasuhan seperti ini diharapkan akan meningkatkan kecerdasan emosional, kemandirian, kreativitas dan kerjasama/kepemimpinan.

  1. KEBUTUHAN AKAN STIMULASI MENTAL (ASAH) PADA ANAK USIA 0-3 BULAN

Stimulasi dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan bayi-balita, setiap hari, terus menerus, bervariasi, disesuaikan dengan umur perkembangan kemampuannya, dilakukan oleh keluarga (terutama ibu atau pengganti ibu).

Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan kegembiraan antara pengasuh dan bayi/balitanya. Jangan memberikan stimulasi dengan terburu-terburu, memaksakan kehendak pengasuh, tidak memperhatikan minat atau keinginan bayi/balita, atau bayi-balita sedang mengantuk, bosan atau ingin bermain yang lain. Pengasuh yang sering marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari pengasuh justru memberikan rangsang emosional yang negatif. Karena pada prinsipnya semua ucapan, sikap dan perbuatan pengasuh adalah merupakan stimulasi yang direkam, diingat dan akan ditiru atau justru menimbulkan ketakutan bayi-balita.

Stimulasi mental merupakan cikal bakal dalam proses belajar (pendidikan dan pelatihan) pada anak. Stimulasi mental (ASAH) ini mengembangkan perkembangan mental psikososial: kecerdasan, agama, kepribadian yang mantap, arif, moral-etika, produktivitas yang baik dan sebagainya.

Berbagai parameter stimulasi perlu dipertimbangkan termasuk jumlah, tipe, waktu, pola, kualitas stimulasi serta faktor risiko yang ada. Bebagai macam stimulasi yang dianjurkan pada bayi adalah :

1. Stimulasi Visual (gerakan, warna, bentuk)

Rangsang visual sebaiknya terdiri dari warna yang mencolok, kontras gelap dan terang (garis-garis, lingkaran-lingkaran sepusat, bentuk geometrik), obyek yang bergerak dan permukaan di sekitarnya. Wajah manusia adalah obyek yang paling disukai untuk menarik perhatian, bentuknya, gerakannya dan suaranya. Tatapan wajah yang sangat dekat dan bersuara menimbulkan stimulasi visual, auditori dan taktil secara bermakna. Perubahan posisi yang sering (dan telentang ke tengkurap, dan tempat tidur ke gendongan, dan kursi ke ayunan) memungkinkan bayi mendapatkan berbagai stimulasi penglihatan dan pemandangan yang berbeda.

2. Stimulasi Auditori (menyanyi, musik, suara ibu)

Untuk merangsang pendengaran, bersuara  sangatlah penting. Jumlah dan tipe bahasa yang digunakan di rumah selama periode bayi merupakan faktor penting dalam perkembangan kecerdasan anak. Pemaparan terhadap berbagai musik, suara harian keluar masuk rumah, membacakan cerita untuk bayi meskipun masih berumur 0-3 bulan akan membantu rangsang pendengaran bayi. Tetapi jangan terlalu berisik dan mengganggu. Bayi yang dihujani dengan suara yang berisik (suara TV, radio, teriakan, kegaduhan yang konstan) terlatih sulit menghilangkan gangguan tersebut, sehingga kelak anak sulit untuk membedakan dengan menggunakan pendengaran dan perhatian.

3. Stimulasi Taktil (pijat, posisi, fleksi ekstensi)

Dari semua rangsang sensori, rangsang raba (taktil) adalah yang paling penting untuk perkembangan yang sehat. Sensasi sentuhan adalah yang paling berkembang pada saat lahir, dan telah berfungsi sejak sebelum lahir, jauh sebelum fungsi sensasi lainnya berkembang. Memegang, menimang, mengurut, menepuk, menggoncang dan gerakan adalah sangat penting, termasuk memijat dan memandikan. Ibu dapat melakukan ini selama memberiASI, mengganti baju dan kegiatan rutin lamanya. lbu yang memberi botol dengan disangga, atau yang meletakkan bayi di tempat tidur dengan botol berarti merampas sensasi kehangatan dan kedekatan, juga merampas dan rangsang pandangan, pendengaran dan rabaan.

Cara berinteraksi pada bayi usia 0-3 bulan:

1. Penglihatan

• Menarik perhatian bayi, dekatkan wajah ibu

• Pertahankan kontak mata yang lama

• Ubah ekspresi wajah untuk mempertahankan interaksi visual, menggunakan senyuman, ekspresi kaget, gerakan lidah

• Tirukan ekspresi wajah bayi

• Gerakan benda berwarna terang untuk membantu pemfokusan bayi dan mengikutinya

• Atur posisi bayi sehingga Ia dapat melihat ke orangtua

2. Pendengaran

• Gunakan suara anda untuk berbagai cara berkomunikasi dengan bayi (bernyanyi, bergumam, berkotek, memanggil mama, bercakap)

• Berusaha agar bayi menggerakkan matanya dan kepalanya kearah suara anda

• Gunakan benda untuk menimbulkan suara (kerincingan, bel, musik)

3. Perabaan

• Menggendong dan mengatur posisi

• Sentuhan, tepukan, urut/pijat bayi dengan cara menenangkan dan berirama

• Manfaatkan refleks bayi untuk interaksi (refleks isap, refleks memegang)

• Pegang dan timang bayi

• Ayunkan bayi ketika diam, dan hibur dengan menggoyang ketika rewel.

FILSAFAT ILMU DALAM KAJIAN PAUD

 
  1. Dilihat dari segi Ontologi

Seperti yang dijelaskan sebelumnya Ontologi merupakan Ilmu yang mempelajari dan mengkaji lingkup apa yang dikaji oleh suatu ilmu, misalnya apa saja lingkup ilmu yang ada dalam pendidikan anak usia dini. Ontologi ilmu adalah suatu proses pengkajian sesuatu secara mendalam dalam lingkup dunia empiris.

Ontologi membahas tentang apa yang dikaji oleh suatu ilmu dan wilayah kerjanya. Contoh: PAUD mempelajari anak usia dini dari usia 0 sampai dengan 8 tahun dengan wilayah kajian di lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah (TK, RA, PG/KB, TPA, BKB, Posyandu PAUD, Pos PAUD, dan sebagainya).

Ketika mempelajari ontologi ilmu kependidikan, maka kita  akan mempelajari segala yang ada dalam bidang pendidikan (subjek dalam dunia pendidikan adalah siswa/anak didik yang harus dipelajari dari anak didik adalah perkembangan jasmani, intelektual dan psikologisnya). Jadi, ontologi pada PAUD benar-benar pencarian hakikat sesuatu yang dilandasi keingintahuan akan suatu hal yang mungkin ada dan sudah ada segala hal mengenai PAUD.

  1. Pengertian dan Karakteristik Anak Usia Dini

Pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.[1] Anak usia dini adalah anak yang baru dilahirkan sampai usia 6 tahun. Usia ini merupakan usia yang sangat menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. Usia dini merupakan usia di mana anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Usia dini disebut sebagai usia emas (golden age).

Karakteristik PAUD khususnya anak TK diantaranya oleh Bredecam dan Copple, Brener, serta Kellough sebagai berikut.

1)        Anak bersifat unik.

2)        Anak mengekspresikan perilakunya secara relatif spontan.

3)        Anak bersifat aktif dan enerjik.

4)        Anak itu egosentris.

5)        Anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal.

6)        Anak bersifat eksploratif dan berjiwa petualang.

7)        Anak umumnya kaya dengan fantasi.

8)        Anak masih mudah frustrasi.

9)        Anak masih kurang pertimbangan dalam bertindak.

10)     Anak memiliki daya perhatian yang pendek.

11)     Masa anak merupakan masa belajar yang paling potensial.

12)     Anak semakin menunjukkan minat terhadap teman.

 

b. Prinsip-prinsip Perkembangan Anak Usia Dini

Adapun prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini menurut Bredekamp dan Coople adalah sebagai berikut.

1)      Perkembangan aspek fisik, sosial, emosional, dan kgnitif anak saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.

2)      Perkembangan fisik/motorik, emosi, social, bahasa, dan kgnitif anak terjadi dalam suatu urutan tertentu yang relatif dapat diramalkan.

3)      Perkembangan berlangsung dalam rentang yang bervariasi antar anak dan antar bidang pengembangan dari masing-masing fungsi.

4)      Pengalaman awal anak memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak.

5)      Perkembangan anak berlangsung ke arah yang makin kompleks, khusus, terorganisasi dan terinternalisasi.

6)      Perkembangan dan cara belajar anak terjadi dan dipengaruhi oleh konteks social budaya yang majemuk.

7)      Anak adalah pembelajar aktif, yang berusaha membangun pemahamannya tentang tentang lingkungan sekitar dari pengalaman fisik, social, dan pengetahuan yang diperolehnya.

8)      Perkembangan dan belajar merupakan interaksi kematangan biologis dan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.

9)      Bermain merupakan sarana penting bagi perkembangan social, emosional, dan kognitif anak serta menggambarkan perkembangan anak.

10)   Perkembangan akan mengalami percepatan bila anak berkesempatan untuk mempraktikkan berbagai keterampilan yang diperoleh dan mengalami tantangan setingkat lebih tinggi dari hal-hal yang telah dikuasainya.

11)   Anak memiliki modalitas beragam (ada tipe visual, auditif, kinestetik, atau gabungan dari tipe-tipe itu) untuk mengetahui sesuatu sehingga dapat belajar hal yang berbeda pula dalam memperlihatkan hal-hal yang diketahuinya.

12)   Kondisi terbaik anak untuk berkembang dan belajar adalam dalam komunitas yang menghargainya, memenuhi kebutuhan fisiknya, dan aman secara fisik dan fisiologis.

c. Model Pendidikan Anak Usia Dini

Model pembelajaran berdasarkan minat adalah model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk memilih atau melakukan kegiatan sendiri sesuai dengan minatnya. Pembelajaran berdasarkan minat dirancang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik anak.

Prinsipnya, dalam model pembelajaran berdasarkan minat mengutamakan:

1)    Pengalaman belajar bagi setiap anak secara individual

2)    Membantu anak untuk membuat pilihan-pilihan melalui kegiatan dan pusat-pusat kegiatan melibatkan peran serta keluarga.

3)    Pelaksanaan pembelajaran berdasarkan minat dapat menggunakan beberapa area antara  lain: area agama, balok, bahasa, drama berhitung/matematika, sains, seni/motorik, musik, membaca dan menulis.

  1. Jalur Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini

Menurut pasal 28 ayat 3 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudathul Athfal, atau bentuk lain yang sederajat.

Macam-macam jalur penyelenggaraan PAUD :

1)  Satuan Pendidikan Anak Usia Dini

Satuan pendidikan anak usia dini merupakan institusi pendidikan anak usia dini yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia lahir sampai dengan 6 tahun. Di Indonesia ada beberapa lembaga pendidikan anak usia dini yang selama ini sudah dikenal oleh masyarakat luas, yaitu:

a)    Taman Kanak-kanak (TK) atau Raudhatul Atfal (RA)

TK merupakan bentuk satuan pendidikan bagi anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan bagi anak usia 4 sampai 6 tahun, yang terbagi menjadi 2 kelompok : Kelompok A untuk anak usia 4 – 5 tahun dan Kelompok B untuk anak usia 5 – 6 tahun.

b)    Kelompok Bermain (Play Group)

Kelompok bermain berupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia 2 sampai dengan 4 tahun.

c)    Taman Penitipan Anak (TPA)

Taman penitipan anak merupakan salah satu bentuk pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan dan kesejahteraan anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun.

e. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini

Secara khusus tujuan pendidikan anaka usia dini adalah[2]:

1)      Agar anak percaya akan adanya Tuhan dan mampu beribadah serta mencintai sesamanya.

2)      Agar anak mampu mengelola keterampilan tubuhnya termasuk gerakan motorik kasar dan motorik halus, serta mampu menerima rangsangan sensorik.

3)      Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif sehingga dapat bermanfaat untuk berpikir dan belajar.

4)      Anak mampu berpikir logis, kritis, memberikan alasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.

5)      Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan social, peranan masyarakat dan menghargai keragaman social dan budaya serta mampu mngembangkan konsep diri yang positif dan control diri.

6)      Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, berbagai bunyi, serta menghargai karya kreatif.

  1. Dilihat dari segi Epistemologi

Epistemologi merupakan bagaimana cara-cara memperoleh pengetahuan yang benar (ilmu), dari penjelasan sebelumnya diketahui bahwa tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang anak baik fisik, mental, maupun psikososial, lembaga pendidikan berguna untuk membantu anak berkembang secara optimal sesuai dengan tugas perkembangannya maka dibutuhkan serangkaian program yang bertujuan memberikan pengalaman belajar untuk anak. Serangkaian program yang dirancang oleh para pendidik dengan menggunakan berbagai acuan perkembangan anak disebut dengan kurikulum. Pengertian lain menyebutkan kurikulum merupakan rencana kegiatan atau dokumen tertulis yang mencakup strategi untuk mencapai tujuan. Sementara menurut NAEYC, pengertian kurikulum dapat dijabarkan dengan melihat arti dalam proses pelaksanaannya terlebih dahulu, antara lain:

  1. Rencana kegiatan yang berisi pengembangan seluruh area perkembangan anak: fisik, emosional, bahasa, seni, dan kognitif
  2. Mencakup bahasan yang luas meliputi seluruh disiplin ilmu : sosial, intelektual, dan konsep diri anak
  3. Dibangun atas pengetahuan yang sudah siap dipelajari dan dilaksanakan anak (aktivitas pengetahuan utama) untuk menghubungkan pengetahuan mereka dan menerima konsep serta keterampilan baru.
  4.  Menggunakan bahan dari berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran untuk membantu anak memecahkan masalah yang dihadapi, membuat hubungan yang bermakna dan memberi kesempatan untuk menggali perkembangan konseptual
  5. Mengembangkan pengetahuan & pemahaman; proses; dan keterampilan untuk digunakan dan diterapkan serta untuk mempelajari pengetahuan
  6. Berisi pengembangan intelektual, penemuan inti pembelajaran, dan alat penerimaan ilmu yang berbeda sesuai dengan gaya belajar anak
  7. Memberi kesempatan anak untuk mengembangkan budaya dan bahasa keluarganya sambil mengembangkan kemampuan dalam bersosialisasi dengan budaya dan bahasa di sekitarnya
  8. Berisi tujuan yang realistik dan dapat dicapai oleh sebagian besar anak pada usianya
  9. Menggunakan teknologi dan bersifat filosofis dalam proses pembelajaran

Jadi kurikulum adalah seperangkat rencana untuk dilaksanakan dalam aktivitas pembelajaran yang mencakup pengembangan berbagai potensi anak menggunakan strategi bahkan media yang disesuaikan dengan kebutuhan anak dan lingkungan, dalam penyusunan kurikum ada beberapa hal yang harus diperhatikan. National  Assosiation for the Education of Young Children (NAEYC) mengemukakan beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam menyusun kurikulum untuk anak usia dini yang berdasarkan pada pendekatan DAP. Prinsip tersebut antara lain:

  1. Kurikulum hendaknya necakup seluruh aspek perkembangan anak baik fisik, sosial emosional, bahasa, estetika maupun kognitif.
  2. Kurikulum meliputi rentangan yang luas dalam konten atau bahan pembelajaran antar disiplin ilmu yang relevan secara sosial dan konteks budaya setempat, melibatkan intelektual dan penuh makna bagi anak secara individual.
  3. Kurikulum dibangun pada apa yang telah diketahui dan dapat dilakukan oleh anak (aktifitas mendahului pengetahuan). Hal ini dimaksudkan untuk mengkonsodilasikan pembelajaran dan untuk mendorong penguasaan konsep dan keterampilan baru.
  4. Perencanaan kurikulum yang efektif selalu memadukan antar berbagai topik materi. Hal ini bermaksud untuk membantu anak membuat suatu hubungan yang bermakna dan menyediakan kesempatan pengembangan konsep yang kaya. Berfokus pada suatu objek juga merupakan strategi yang tepat untuk anak-anak.
  5. Kurikulum mengarahkan pada pengembangan pengetahuan dan pemahaman, proses dan keterampilan sebanding dengan penggunaan dan penerapan keterampilan dan kelanjutan pembelajaran.
  6. Konten/ isi kurikulum memiliki integritas intelenktual, merefleksikan kunsi konsep dan keterampilan inkuiri, dari disiplin ilmu yang dipelajari dalam cara-cara yang dapat diterima dan dapat dilakukan oleh anak berdasarkan jenjang usianya.
  7. Kurikulum memberikan kesempatan untuk mendukung berakembangnya pemahaman anak terhadap budaya dan bahasa lokal, sehingga anak bisa berpartisipasi dalam program kebudayaan setempat.
  8. Tujuan kurikulum hendaknya realistik dan dapat dicapai oleh anak yang disesuaikan dengan tingkatan usianya.
  9. Sebaiknya teknologi terintegrasi yang digunakan di dalam kelas terintegrasi secara fisik dan filosofi dalam kurikulm dan pengajaran.

Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut maka diharapkan seorang guru dapat membuat kurikulum yang patut dan sesuai dengan anak. Kurikulum pada pendidikan anak usia dini merupakan perwujudan dari serangkaian rencana guna memberikan pengalaman belajar untuk anak didik yang disesuaikan dengan tugas perkembangan meeka disetiap tahapan usia. Kurikulum anak usia dini adalah sebuah alur  mulai dari perencanaan sampai pada refleksi keefektifan program, kurikulum memiliki banyak model dan ciri khas masing-masing yang dapat dikembangkan di dunia pendidikan mana pun dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, sehingga kurikulum sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan lingkungan. Model-model tersebut antara lain[5]:

a.  Model Montessori

Pembelajaran model Montessori menggabungkan anak dari berbagai usia dan kemampuan menjadi satu kelas. Lingkungan pembelajaran diatur sesuai ukuran tubuh anak, materi bermain yang berurut dari sederhana menuju komplek, menyiapkan pengalaman langsung dalam setiap aktivitas anak dengan melibatkan anak secara aktif, dan guru bertindak membimbing dan mengamati proses perkembangan anak daripada memberikan instruksi. Pembelajaran menurut model Montessori lebih diorganisasi secara individualis daripada kelompok. Sekolah Montessori melaksanakan pembelajaran yang lebih bersifat individu pada anak dan tidak direncanakan untuk kegiatan kelompok. Anak berpindah dan berganti materi permainan dengan bebas di seluruh ruangan. Model Montessori menjabarkan tiga konsep sebagai kunci pembelajarannya, yaitu:

1)     Anak belajar jika melakukan aktivitas secara langsung.

2)     Anak bebas  memilih apa yang dibutuhkannya untuk mengembangkan kompetensinya.

3)     Guru tidak boleh mendiktekan tujuan belajar kepada anak agar anak dapat memilih kegiatan dengan bebas sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan.

b. Model Behaviorist

Model behavioris  dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran Edward Thorndike dan B. F. Skinner. Ada tiga komponen dalam model behavioris yang dikenal sebagai   instruksi langsung, yaitu agenda penguatan, perubahan prilaku, dan menghilangkan prilaku.

1) Agenda penguatan.

Penguatan merupakan hadiah yang diberikan atas prilaku yang telah dicapai anak. Hadiah dapat berupa benda ataupun pujian verbal dan non verbal. Agenda penguatan artinya penguatan diberikan secara terjadwal ketika perubahan prilaku telah tercapai, tidak semua respon diberi penguatan. Penguatan dimulai terhadap dua respon terlebih dahulu, kemudian meningkat menjadi empat dan seterusnya.  Penguatan tidak diberikan pada prilaku yang telah lama berubah, untuk beberapa prilaku yang telah dicapai anak, distimulasi yang akan tidak membutuhkan penguatan lagi tetapi langsung menuju prilaku selanjutnya yang akan ditanamkan.

2)    Perubahan prilaku.

Prilaku akan berubah tergantung pada penguatan dan hukuman yang diterima anak.  Jika anak menjadi pengganggu di dalam kelompok, makan guru harus mengacuhkan anak ketika berprilaku mengganggu dan memberi pujian atau hadiah ketika anak berprilaku yang bermanfaat. Anak berprilaku mengganggu bertujuan untuk mencari perhatian guru, karenanya hal itu tidak perlu ditanggapi, tetapi keberhasilan anak yang positif harus diberi hadiah sebagai penguatan agar prilaku yang diharapkan tetap dilakukan anak dikemudian hari.

3)     Menghilangkan prilaku.

Prilaku buruk akan hilang jika hal ini didukung oleh lingkungan sekitar. Model behavioris ini fokus pada pencapaian tujuan pembelajaran yang bersifat akademik seperti membaca, matematika, dan bahasa. Pembelajaran dilakukan dalam kelompok kecil

c.  Model Konstruktif

Model konstruktif merupakan pengembangan  dari teori pembelajaran Jean Piaget dan Lev Vigotsky. Model konstruktif  menyatakan bahwapengetahuan dibangun atas hasil pemerolehan ilmu melalui pengalaman langsung.  Anak aktif mencari pengalaman secaralangsung sehingga konsep yang  ditanamkan dalam pembelajaran dapat dimengerti anak dan bertahan lama dalam pikiran anak.

Tujuan utama pembelajaran model konstruktif adalah merangsang seluruh area perkembangan anak, yaitu perkembangan fisik, social-emosional,bahasa, dan kognitif. Kurikulum model konstruktif dikembangkan berdasarkan pada minat anak dan terintegrasi tidak berdasarkan pada bidang studi yangterpisah.

Pelaksanaan model konstruktif meliputi:

a. Pembelajaran dilakukan secara konkret sesuai dengan usia anak  yang berada pada tahap operasional dari perkembangan kognitif Piaget.

b. Anak belajar dan mengoptimalkan perkembangannya secara aktif melalui pengalaman langsung.

c. Menggunakan materi, peralatan, dan aktivitas belajar yang dapat mendorong anak mengembangkan potensinya secara aktif, seperti aktivitas seni, area pembangunan, bermain peran, menyanyi, bermain air dan pasir.

d.  Model Bereiter-Engelmann

Model ini dikembangkan oleh Carl Bereiter dan Siegfried Engelmann pada tahun 1960an. Program pembelajaran model Bereiter-Engelmann mempersiapkan anak untuk berkembang lebih cepat dari kemampuan di usianya. Menurut Brewer, keunggulan model Bereiter-Engelmann dapat

dijabarkan sebagai berikut:

1)    Langkah cepat. Setiap anak memerlukan 500 respon dalam waktu 20 menit dan dalam waktu 20 menit tersebut diberikan lima atau lebih tugas yang berbeda.

2)    Mengurangi latihan prilaku yang tidak penting. Guru mengendalikan pembelajaran hanya mengandalkan perubahan kondisi yang spontan untuk memberikan pembelajaran prilaku.

3)    Sangat menekankan pada respon verbal. Keterampilan akademik dihasilkan secara bersamaan dalam pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara maksimal melalui tanggapan guru terhadap berbagai pertanyaan anak secara verbal.

4)    Teliti dalam membuat perencanaan hingga pada tujuan terkecil sekalipun dan memberikan umpan balik secara terus menerus agar anak dan guru segera menyadari kesalahan yang dibuatnya dan segera memperbaiki.

5)    Menuntut kerja keras. Anak membutuhkan perhatian dan kerja keras dari orang tua atau guru untuk memberikan penguatan atau hukuman atas prilaku yang diperbuat anak.

  1. Dilihat dari segi Aksiologi

Aksiologi adalah pembahasan tentang untuk apa pengetahuan yang telah kita ketahui dipergunakan dalam kajian ilmu terapan khususnya ilmu PAUD. Jika bicara tentang “untuk apa?” maka kita akan membahas fungsi dan kegunaannya ilmu-ilmu yang terkait dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dari aksiologi lahirlah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia etika dan estetika.

Etika membahas tentang perilaku menuju kehidupan yang baik, di dalamnya membahas aspek kebenaran, tanggung jawab, peran. Estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya.

Di dalam aksiologi, peran agama, seni dan budaya sangatlah berpengaruh. Ketiga hal tersebut, tidak mungkin dipisahkan dari sebuah kajian filsafat, khususnya dalam aksiologi. Peran agama, seni dan budaya dalam aksiologi adalah sebagai berikut:

  1. Peran agama sangatlah penting, karena agama adalah pedoman hidup manusia yang bersifat nisbi dan pragmatis. Agama merupakan penghayatan yang bersifat mistik dan trasedental dalam usaha manusia untuk mengerti dan memberi arti dalam kehidupannya, maka sejak usia dini anak perlu dibekali pemahaman tentang agama.
  2. Peran seni/estetika yaitu berhubungan dengan keindahan dan segi artistik yang menyangkut antara lain, bentuk, harmoni, dan wujud kesenian lainnya yang memberikan kenikmatan kepada manusia. Untuk menanamkan jiwa seni pada anak maka mengembangkan kreativitas dan imajenasi sejak dini sangat diperlukan, melalui kegiatan bereksperimen.
  3. Peran budaya dalam aksiologi sangat bergantung dan mempengaruhi, karena perkembangan ilmu dalam masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaannya. Budaya adalah hasil karya, cipta manusia yang menghasilkan kreatifitas. Pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan karena ilmu terpadu secara intim dengan keseluruhan sistem sosial dan tradisi kebudayaan.

 

Beberapa peran ilmu di atas adalah peran ilmu dalam aksiologi secara umum kita akan membahas peran ilmu-ilmu yang terkait dalam PAUD. Untuk itu, kita perlu tahu apa saja ilmu yang terkait dengan PAUD. Berikut adalah beberapa ilmu yang kami anggap penting untuk dipahami oleh para pendidik PAUD untuk konseptual dan praktik serta perannya dalam kajian PAUD itu sendiri.

  1. Konsep Dasar PAUD

Seorang pendidik maupun orang tua PAUD harus memahami Konsep Dasar PAUD, karena didalamnya dikaji tentang hakikat anak usia dini dan teori-teori dasar pengajaran dan pembelajaran untuk anak usia dini. Jika seorang pendidik dapat menguasai konsep dasar PAUD, maka pendidik tersebut dipastikan dapat:

1)     Memahami persoalan-persoalan yang timbul pada anak usia dini.

2)     Menerapkan teori pengajaran dan pembelajaran ke dalam praktik.

3)     Memenuhi kebutuhan perkembangan psikis dan akademis anak,

  1. Perkembangan Anak

Seorang pendidik maupun orang tua PAUD harus memahami dan mengaplikasikan perkembangan anak karena didalamnya dikaji tentang tahapan-tahapan tumbuh kembang yang biasanya dialami anak usia dini pada umumnya. Dengan mempelajari perkembangan anak, maka seorang pendidik akan memahami tentang:

1)     Prinsip-prinsip perkembangan anak

2)     Dasar-dasar pola perkembangan

3)     Perkembangan: fisik, motorik, bahasa, emosi, sosial, kognitif, spiritual.

  1. Kurikulum PAUD

Seorang pendidik PAUD harus memahami kurikulum untuk dapat melaksanakan serta merancang kegiatan pengajaran dan pembelajaran, karena kurikulum membahas tentang program-program yang harus diberikan pada anak usia dini. Maka yang harus diperhatikan dalam hal ini yaitu apa dan bagaimana perencanaan pembelajarannya, bagaimana strategi pembelajaran untuk anak usia dini yang sesuai dengan kebutuhannya, dan bagaimana evaluasi pembelajarannya sesuai teori yang akan digunakan dan disesuaikan dengan lembaga.