artikel PAUD

tuna olimpic1

Tuna Grahita

Tuna grahita atau biasa disebut dengan retardasi mental merupakan individu yang mengalami keterbatasan mental. Kondisi ini menyebabkan individu yang bersangkutan mengalamu hambatan dalam belajar dan mengalami hambatan untuk dapat melakukan berbagai fungsi dalam kehidupannya serta dalam penyesuaian diri.[1]

Klasifikasi retardasi mental

  1. Mampu didik

Dapat mencapai kemampuan anak usia 7 – 12 tahun, menguasai kemampuan akademis setingkat kelas 4 sekolah dasar, dapat menolong diri sendiri dan memiliki keterampilan adaptasi sosial, dan dapat melakukan pekerjaan sederhana (unskill work)

  1. Mampu latih

Dapat mencapai kemampuan anak usia 2-7 tahun, dapat menguasai keterampilan akademik dasar secara terbatas, dapat menolong diri sendiri dan memiliki keterampilan sosial secara terbatas serta dapat melakukan pekerjaan sederhanadan rutin dengan supervisi penuh.

  1. Mampu rawat

Dapat mencapai kemampuan anak berusia 2 tahun, selalu membutuhkan bantuan orang lain dalam segala bidang kebutuhan hidup.

Faktor penyebab mental redartasi

a. kelainan genetis

Gen merupakan blueprint yang merakit dan mengatur protein dan bangunan tubuh manusia. Setiap gen bertanggung jawab terhadap sistem yang mengatur urutan khusus dari asam amino dari protein yang merakit bangunan tubuh. Jika terjadi kelainan walaupun sangat kecil dalam rantai tersebut mka merusak fungsi protein yang dibutuhkan dalam membangun tubuh.

b. toxic agent dan infectious disases

zat pembawa racun dan penyakit terinfeksi yang dialami ibu pada waktu mengandung sehingga mengganggu keseimbangan biokimia saat ibu hamil. Virus dan bakteri yang menyebabkan penyakit infeksi melemahkan tubuh dan mengakibatkan kerusakan pada sistem susunan saraf pusat.

c. polygenic inheritance

karakteristik manusia seperti warna kulit, warna rambut, tinggi badan, dan bentuk tubuh serta potensi intelegensi adalah hasil interaksi dari sejumlah gen yang beroperasi secara serentak. Kerusakan yang terjadi dalam proses ini menyebabkan retardasi mental.

Gited/Talented

Anak yang memiliki skor intellegence quotient (IQ) 130-140 ditetapkan sebgai anak gifted. Menurut Braun dan Einstein rasio individu gifted dan individu normal yakni 1:100.000. Pengertian dari individu gifted adalah individu yang memiliki kemampuan luar biasa sehingga mampu menghasilkan unjuk kerja yang luar biasa yang meliputi tingkat intelegensi umum, kemampuan akademik, kemampuan dalam bidang spesifik, kemampuan berpikir produktif, kreatifitas, kemampuan kepemimpinan dan seni.

Profil perkembangan gifted dan talent]

a. Perkembangan fisik dan kesehatan diatas rata-rata.

b. Sangat berminat pada mata pelajaranyang bersifat abstrak (kesusastraan, sejahah dan matematika)

c. Kemampuan menyesuaikan diri dan kenakalan kesenderungan untuk melakukan bunuh diri sedikit lebih rendah dari pada individu yang non

d. Perkawinan dengan individu seusianya tingkat perceraiannya lebih rendah dari individu seusianya dan rata-rata skor IQ anak yang dihasilkan yakni 133.

e. Jarang mengeluarkan ukapan secara berlebihan, tidak menyontek, menunjukkan skor yang tinggi, dan stabil dalam emosional.

Kelainan Perilaku

Kelainan perilaku merupakan masalah yang berkaitan dengan emosi. Kelainan perilaku ditentukan oleh nilai-nilai sosial yang berlaku sedangkan perilaku sosial dapat dipelajari. Anak dapat mempelajari perilaku yang tepat sehingga diterima oleh lingkungan sosialnya. Untuk menganalisis kelainan emosi yang dapat menyebabkan kelainan perilaku maka ada 4 aspek yang dijadikan pedoman.

a.   rate berkaitan dengan seringnya perilaku bermasalah ditampilkan oleh anak. Misalnya, berpikir bahwa berkelahi dengan anak lain adalah normal.

b.   duration adalah hal yang berkaitan dengan seberapa lama perilaku ditunjukkan oleh anak. Pada anak normal akan menunjukkan rasa marah dan kesalnya dalam waktu yang relatif singkat yaitu  sekitar 5 sampai 10 menit, sedangkan pada anak yang berkelainan perilaku akan menunjukan marah dengan waktu yang lebuih lama bahkan terkadang sampai tantrum.

c.   topography berkaitan dengan bentuk bentuk perilaku yang ditampilkan. Misalnya ketika melempar bola atau permainan yang melibatkan otot kasar maka anak akan melakukan gerakan aneh sampai bahkan yang membahayakan dirinya.

d.   magnitud berkaitanaitan dengan kemampuan dalam membedakan bila dan dimana suatu perilaku sebaiknya ditampilkan. Misalnya ia tertawa ketika suasana duka cita, karena anak berkelainan perilaku tidak memiliki pertimbangan.

Faktor penyebab kelainan perilaku

Secara umum faktor penyebab kelainan perilaku dapat diklasifikasikan kedalam tiga bagian, yaitu:

  1. Faktor penyebab yang berkaitan dengan central nervous system (sistem saraf pusat/otak). Bloomquis dalam Jamaris mengemukakan bahwa kelainan perilaku secara umum dikaitkan dengan faktor psikologis, akan tetapi sebagian besar proses psikologis berkaitan dengan sistem saraf pusat, yang berarti berkaitan dengan operasi kegiatan di dalam otak yaitu spinal cord dan nerves (saraf) diseluruh tubuh. Setiap anak terlahir mewarisi aspek-aspek genetik yang memerintah perkembangan saraf pusat. Dilain pihak pengaruh lingkungan dan tekanan keras dan berbenturan yang mencederai sistem saraf dapat mempengaruhi perkembangan sistem saraf pusat yang menyebabkan kelainan dalam berperilaku.
  2. Faktor biophysical

Disebabkan oleh infeksi yang terjadi di dalam kandungan dan infeksi yang terjadi setelah kelahiran, kelainan kromosom, kelemaham auditori.

  1. Faktor psychological

Faktor psikologi merupakan faktor yang mempengaruhi kehidupan anak yang selanjutnya akan dipengaruhi cara ia bertindak. Hubungan yang terjadi antara anak dengan orang tuanya terutama di masa dini merupakan faktor penting bagi anak untuk mempelajari bagaimana  cara bertindakdan berinteraksi dengan orang lain.

Tuna Netra

Tuna netra atau kelainan visual merentang dari yang kelainan ringan, sampai pada kelainan berat, bahkan sampai kondisi yang disebut dengan buta. Definisi kelainan visual secara legal ditentukan oleh pengukuran terhadap ketajaman visual. Dalam pelaksanaanya individu yang diukur ketajaman visualnya diminta membaca huruf dan angka dari jarak 20 kaki. Apabila ketajaman visual individu  yang bersangkutan dinyatakan sebagai 20/20, hal ini berarti bahwa ia dapat melihat dengan baik dalam jarak 20 kaki, artinya ia memiliki ketajaman visual normal. Seorang  dinyatakan  buta total apabila visual acuity yang dimilikinya berada dalam tahap 20/200, walaupun ia diberi alat bantu visual, ia tetap tidak dapat melihat.

Klasifikasi kelainan visual

a. Klasifikasi normal

  • Penglihatan normal dan dapat melakukan kegiatan tanpa bantuan khusus atau alat pelihat.
  • Penglihatan hampir normal/sedang yakni dapat melihat dengan bantuan alat pelihat

b. Klasifikasi Low Vision

  • Serve (berat) yakni dapat melakukan tugas secara perlahan dan hati hati walaupun dengan bantuan alat pelihat
  • Profound (sangat berat) yakni sulit melakukan kegiatan yang membutuhkan koordinasi gross motor dan tidak dapat melakukan kegiatan yang menghendaki kemampuan secara detail

c. Klasifikasi Blind

  • Near blind (hampir buta) yakni penglihatan tidak dapat diandalkan dan bergantung dengan kemampuan indra yang lain
  • Blind (buta) yakni secara total tidak dapat melihat dan bergantung pada kemampuan indra yang lain

Tuna Rungu

Tuna Rungu dapat diartikan suatu kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan pada indra pendengarannya. Menurut Moores istilah pendengaran rusak tidak terbatas pada individu-individu yang kehilangan pendengaran sangat berat. Jadi tuna rungu mencakup seluruh tingkat kerusakan pendengaran, jadi tidak anak yang tuli saja melainkan juga individu yang kehilangan pendengaran sangat ringan yang masih mengerti pembicaraan orang lain. Tingkatan tersebut dibedakan kehilangan pendengaran sangat ringan, sedang, berat, dan sangat berat.[2]

Sementara itu menurut Smith & Neisworth tuna runggu adalah kehilangan pendengaran sangat berat sehingga indra pendengaran tidak berfungsi dan karenanya perkembangan bahasa terlambat.[3] Pendapat lain dikemukakan oleh Mohammad Efendi yang menjelaskan bahwa secara fisiologis, struktur telinga manusia dibedakan menjadi dua bagian, yaitu organ telinga manusia dibedakan menjadi dua bagian, yaitu organ telinga yang berfungsi sebagai penghantar dan organ telinga berfungsi sebagai penerima.

Proses pendengaran dikategorikan normal, apabila sumber bunyi didekat telinga yang memancarkan getaran-getaran suara dan menyebar kesembarang arah dapat terungkap dan masuk kedalam telinga sehingga membuat gendang pendengaran bergetar. Melalui ketiga tulang pendengaran (martil, landasan, sangurdi), yang kakinya berhubungan dengan selaput jendela lonjong maka getaran suara tersebut akan disalurkan ke telinga dalam. Di telinga dalam bagian yang intinya berisi organ rumah siput yang didalamnya terdapat cairan endolymphe dan perlymphe serta bulu –bulu halus. Getaran suara yang dikirim oleh ke tiga tulang pendengaran tersebut diserap oleh organ-organ tersebut dan mengubah getaran suara dari rangsang elektrik. Selanjutnya, melalui saraf rangsang tersebut diteruskan ke pusat pengertian. Di pusat pengertian suara mengalami proses pengolahan dan pemahaman melalui tanggapan akustik. Disinilah timbul kesadaran seseorang mengenai bunyi.

Jika dalam proses mendengar tersebut terdapat satu atau lebih organ telinga yang mengalami gangguan maka keadaan tersebut dinamakan tuna rungu.[4]

Kelainan fisik dan kesehatan

Anak dengan kelainan fisik dan kesehatan tersebar dalam berbagai kelompok sehingga sulit untuk mengklasifikasi mereka secara rinci, kecuali dalam klasifikasi yang merentang dari kelainan fisik dan kesehatan yang ringan sampai kelainan yang berat.

Faktor penyebab dan jenis kelainan fisik dan sesehatan

Secara umum penyebabnya adalah prthopedic impairment yang menyebabkan kelainan tulang, sendi, anggota tiubuh, dan otot serta neurogical impairment yang menyebabkan ketidak mampuan untuk menggunakan, merasakan, dan mengontrol bagian tubuh tertentu.

Penyebab kelainan fisik dan kesehatan

a. Cerebral Palsy

merupakan bentuk kelainan fisik yang paling banyak ditemui. Kondisi ini bukan dsebabkan oleh penyakit akan tetapi oleh malfungsi otak yang bersifat statis yang menyebabkan kelumpuhan atau kelainan gerak.  Penyebabnya adalah luka, kecelakaan, dan penyakit pada masa prenatal (sebelum kelahiran), perinatal ( pada waktu kelahiran), dan pos natal (setelah kelahiran).

b. Spina Bafida

merupakan kondisi yang dibawa sejak lahir yang disebabkan oleh formasi spinal cord atau tulang belakang yang tidak pada posisi yang tepat. Dalam keadaan normal spinal cord mengontrol saraf dan rasa pada bagian bawah tubuh. Keadaan ini dapat disembuhkan dengan operasi.

c. Osteogenesis Imperfecta

Merupakan kondisi yang dibawa sejak lahir yang ditandaioleh tulang yang sangat rapuh dan mudah patah. Keadaan ini disebabkan karena skletal system yang tidak berkembang dengan normal.

d. Spinal Cord Injured

Merupakan kondisi yang disebabkan oleh kecelakaan.

e. Amputasi

Amputasi menyebabkan individu kehilangan anggota tubuhnya.

Sekolah luar biasa untuk anak berkebutuhan khusus

Bedasarkan UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 32 ayat 1, yang dimaksud dengan pendidikan khusus adalah pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, mental, sosial ada atau memiliki potensi kecerdasan serta bakat istimewa. Selanjutnya dipertegas juga dalam Permendiknas nomor 1 tahun 2008  tentang Standar Proses Pendidikan Khusus yaitu disebutkan bahwa pendidikan khusus adalah pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran dikarenakan adanya kelainan fisik, emosional, intelektual, sosial dan atau potensi kecerdasan dan bakat istimewa.[5]

Dalam layanan pendidikan, sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus sama dengan sekolah anak-anak pada umumnya. Namun karena kondisi dan karakteristik kelainan anakyang disandang anak berkebutuhan khusus maka sekolah bagi mereka dirancang secara khusus sesuai dengan jenis dan karakteristik kelainanya. Tujuannya adalah agar anak-anak tersebut mampu mengembangkan pengetahuan sikap dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakan yang mampu hidup secara mandiri dab dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Struktur Kurikulum pada TKLB

1. Stuktur Kurikulum Pendidikan khusus berdasarkan standar isi

Program pembelajaran pada TKLB dikembangkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki pendidikan dasar. Sementara itu program pembelajaran di TKLB dikelompokkan dalam

  1. Program pembelajaran sosial dan kepribadian
  2. Program pembelajaran agama dan akhlak mulia
  3. Program pembelajaran pengetahuan dan tegnologi
  4. Program pembelajaran estetika
  5. Program pembelajaran jasmani
  6. Keterampilan komunikasi
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s